Pembuka Botol

Manusia adalah tubuh dan jiwa…

Maka dalam hal ini botol adalah tubuh, dan air adalah apa yang dikandung oleh tubuh tersebut…


Air sudah tertampung di dalam botol sebelum botol minuman dikemas dan didistribusikan.

Seperti itu pula Allah meniupkan ruh sebelum manusia dikeluarkan dari rahim ibunya.

Air sudah ada pada diri kita, tapi seperti layaknya minuman botol yang tak bisa dinikmati bila tutupnya belum dibuka, begitu pula manusia.

Tulisan ini bukan tulisan tentang cara membuka botol, namun lebih pada mencari pembuka botol itu sendiri.

Nyelip dimana? Tempat mana yang belum dicari?


Tulisan ini ditulis oleh seekor ayam yang (semoga) dari pantatnya keluar intan diantara kotorannya.

Sehingga sudah tidak penting lagi ayamnya, karena terlanjur silau oleh intannya. Karena intan tetaplah intan darimana pun datangnya.


Tulisan ini ditulis oleh ayam yang ingin belajar terbang…

Semenjak melihat rajawali jauh di atas kepalanya…


Tulisan ini diperuntukkan bagi sesama ayam yang ingin belajar terbang walaupun dikatakan tak mungkin.

Atau bagi rajawali yang terbang mengitar dengan segala pesonanya, tapi lupa caranya untuk mendarat.

Atau bagi burung phoenix yang berkenan membagi sedikit cahaya dari bulu apinya, pada seekor ayam yang pantatnya lecet karena intan.


Semoga Tulisan ini bisa bermanfaat…

atau setidaknya… semoga menyenangkan…

Tapi yang pasti…. semoga Allah berkenan…

Wasalam…

Ayam

Laman

Jumat, 14 Oktober 2011

Puncak Gunung dan Dasar Samudra

Manusia tercipta dari tanah, tanah hamparan yang membentang rata. Ketika goncangan terjadi di dalam diri, tanah hamparan tak rata lagi.
Sebagian timbul sebagian tenggelam, maka jadilah gunung dan lembah.
Pada lembah terdalam air menggenang.
Gunung bertambah tinggi dan lembah bertambah dalam, dan genangan akhirnya menjadi lautan, menjadi samudra yang dalam.

Di dasar samudra, gelapnya begitu pekat.

Menyelami samudra menggauli makrifat ilmu-Nya, menyentuh dasarnya menemukan hakekat-Nya.
Karena dasar samudra adalah tanah terendah dari hamparan yang semula rata. Sebuah tanah yang tertutup oleh lautan ilmu rahasia-Nya. Sebuah tanah yang terlupa…

Maka menyentuh dasarnya adalah menyentuh dirinya… sekaligus diri-Nya.  Karena yang menyentuh dirinya menyentuh pula Tuhannya.

Tanah dilautan... dasar samudra…
Tanah di langit… puncak pegunungan…
Gunung menjulang menabrak awan, dan jadilah Himalaya punggung dunia.
Tak kuasa melihat di dalam pekat, manusia berpihak pada yang terlihat saja… puncak gunungnya…sebagai kebenaran dirinya…
Jadilah gunung tonjolan dirinya, puncak exsistensinya…Jadilah tulang punggungnya yang menegakkan tubuhnya.

Dan manusia tegak bertopang pada setengah yang satu, tak sadar atas setengah yang lainnya… dan terlena…
Mengagungkan yang tinggi, melecehkan yang rendah…
Tidak di mizan, manusia tersesat dari asal mulanya… menjauh dari sumbernya…
Jadilah hidup ini senda gurau… tipu daya… nyaris seluruhnya…

Karena Allah-lah sang penentu kadar, seperti titik tengah pada timbangan. Semakin tinggi gunung semakin rendah dasar samudranya… dan kedua ujung timbangan kian menjauh dari pusatnya…
Manusia tersesat sambil membawa peta dan kompas di tangannya, matanya melihat tapi buta adalah hatinya.

Dasar samudra… Makrifatlah yang menutupinya… dan yang kelak mengangkatnya…
Sebuah keagungan dalam kerendahan yang gelap…

Dan hidayah yang senantiasa manusia tolak adalah musibah …
Bagi mereka yang menerimanya, menyatu dengannya…Allah menundukkan mata hatinya… dari pandangannya ke puncak gunung, tertunduk ke bawah menuju dinding lembah… menyusur turun hingga ke pantai, menembus air… dan terus… dan terus… sampai ke tanah terendahnya…

Hatinya menjelajah… dalam tubuhnya yang diam. Dan dasar samudra seolah terangkat… mendekat …  
Dan Allah-lah yang maha Adil penentu kadar…maka di saat yang sama gunung pun kian menurunkan derajat… dan terus mendekat…
Dari sejarak sejengkal…hingga lebih dekat dari jarak telunjuk dan jari tengah…dan tanda kiamat telah dekat… waktu terjanji… yang ditunggu-tunggu…

Dasar samudra, puncak gunung dan seorang manusia diantaranya…
Dia berdiri disana… tidak di atas tidak di bawah, tidak di langit tidak di bumi… seperti arasy…
Dalam harmoni… dalam keseimbangan…dalam mizan

Jarak mengecil, dan kini… dalam satuan ketakterhinggaan…
Saking dekatnya, jaraknya lebih tipis daripada seperseribu tipisnya sehelai rambut…

Kesadaran berkata… bahwa ketika gunungnya dihancurkan, kini yang ada hanyalah fatamorgana…dan ketika dasar lautan terangkat, gelapnya bersinar laksana cahaya…
Fatamorgana yang tujuh warna kembali pada sumbernya sebagai cahaya, maka fatamorgana dan cahaya adalah hal yang sama…

Jarak yang tak berjarak kian merapat… antara yang dua dan yang ketiga ditengahnya… mereka seperti menyatu…
Maka berhentilah mengatakan tiga…

Rahasia terungkap baginya bahwa kini ia sempurna, sehingga “dia” yang semula ia pikir ada, menjadi tiada, sebagai keberadaan yang paling nyata…

Kamis, 29 September 2011

Al Fajr & SirotolMustaqim

Surat Al Fajr :
15. Maka adapun manusia itu apabila Tuhannya menguji, lalu memuliakannya dan memberi nikmat kepadanya, maka ia akan berkata, “Tuhanku telah memuliakanku”.
16. Tetapi apabila ia mengujinya, lalu Dia sempitkan rezekinya, maka ia akan berkata, “Tuhanku telah menghinaku”.
17.  Sekali-kali tidak demikian,...

Tidak demikian!!! Musibah adalah hidayah dan keberlebihan adalah cobaan…

Namun pada tahapan selanjutnya… tiada kekurangan tiada kelebihan. Hanya sunatullah… dan Sunatullah hanya ada sebagaimana mestinya. Bahkan Mujizat pun tidak ada, yang ada hanyalah kekurangan pengetahuan manusia.

Umat Islam bangga pada nabinya karena beliau mampu menolak gunung emas yang ditawarkan Allah padanya. Apakah gunung emas merupakan penawaran atas keberlebihan? Sekali-kali tidak demikian. Sang nabi menolaknya, karena bagi dia, eksistensi gunung emas samasekali tak ada. Bukan keberlebihan yang ia tolak, tapi sudah sewajarnya… apa yang bisa diterima dari sesuatu yang memang tidak ada?

Konon suatu waktu beliau dilempari kotoran. Namun bagi dia… dia tidak dilempari apa-apa…
Tiada bedanya gunung emas dengan kotoran…

Seperti bagi Nabi Isa, tiada teman tiada musuh… cintanya pada semua, seperti cintanya pada dirinya sendiri.

Diri yang mana?

Bila musuh tiada, teman tiada, gunung emas tiada, kotoran tiada… apakah wujud mereka sendiri ada? Hakekat adalah abadi sementara wujud mengalami kelahiran dan kematian…  

Wujud bukanlah hakekat.

Nabi Isa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya. Dia mengenal hakekat dirinya, dan dalam kepasrahan dirinya dia diangkat menuju hakikatnya. Nabi isa tidak disalib, tidak pula Judas.
Penyaliban wujud tak menyentuh Sang nabi, karena hakikat dirinya tidak terjebak disana… Seperti kata kitab, beliau telah diangkat sebelum penyalibannya. Dan kematian wujud tidak menyentuh hakikat dirinya…

Luasnya kenikmatan dan sempitnya rejeki… selama berwujud, itu tetaplah ujian… karena demi masa, manusia berada dalam kerugiannya…

Nikmat dan sengsara, gunung emas dan kotoran, musuh dan teman, kiri dan kanan… yin dan yang…

Kenali yang dua dan temukan tengahnya. Maka ujian akan berakhir. Lewati surga, lewati neraka…maka jalan terbentang, yaitu Sirotol mustakim yang tipisnya tak habis terbagi. Infinite, seperti nol yang tak habis dibagi, tak terhingga… Seperti Allah yang Agung tak berujung.

Dan di ujung jalan yang tak berujung, Allah menanti mereka yang menanti. Dan Dialah Yang Maha Sabar… bagi mereka yang sabar... sabar dalam membersihkan jalannya.

Jalan yang mana? 
Jalan yang tidak di langit tidak di bumi, di mizan tempat Arasy berada... Lebih dekat dari urat leher kita sendiri...