Pembuka Botol

Manusia adalah tubuh dan jiwa…

Maka dalam hal ini botol adalah tubuh, dan air adalah apa yang dikandung oleh tubuh tersebut…


Air sudah tertampung di dalam botol sebelum botol minuman dikemas dan didistribusikan.

Seperti itu pula Allah meniupkan ruh sebelum manusia dikeluarkan dari rahim ibunya.

Air sudah ada pada diri kita, tapi seperti layaknya minuman botol yang tak bisa dinikmati bila tutupnya belum dibuka, begitu pula manusia.

Tulisan ini bukan tulisan tentang cara membuka botol, namun lebih pada mencari pembuka botol itu sendiri.

Nyelip dimana? Tempat mana yang belum dicari?


Tulisan ini ditulis oleh seekor ayam yang (semoga) dari pantatnya keluar intan diantara kotorannya.

Sehingga sudah tidak penting lagi ayamnya, karena terlanjur silau oleh intannya. Karena intan tetaplah intan darimana pun datangnya.


Tulisan ini ditulis oleh ayam yang ingin belajar terbang…

Semenjak melihat rajawali jauh di atas kepalanya…


Tulisan ini diperuntukkan bagi sesama ayam yang ingin belajar terbang walaupun dikatakan tak mungkin.

Atau bagi rajawali yang terbang mengitar dengan segala pesonanya, tapi lupa caranya untuk mendarat.

Atau bagi burung phoenix yang berkenan membagi sedikit cahaya dari bulu apinya, pada seekor ayam yang pantatnya lecet karena intan.


Semoga Tulisan ini bisa bermanfaat…

atau setidaknya… semoga menyenangkan…

Tapi yang pasti…. semoga Allah berkenan…

Wasalam…

Ayam

Laman

Senin, 22 Agustus 2011

Mengapa Menikah Itu Ibadah?

Dua orang yang berbeda... yang berawal dari cinta, dipersatukan lewat budaya dan juga agama…

Sebulan pertama berlalu hangat… bulan kedua… bulan ketiga… Sampai tiba di suatu masa, kesadaran berkata, kita memanga berbeda…
Dan ketika itulah proses ibadah dimulai…

Dua insan dihalalkan untuk saling telanjang… tidak hanya atas pakaian yang menutupi tubuh, tapi jugaatas tubuh yang menutupi pikiran, bahkan atas pikiran yang menutupi jiwa…

Seorang suami bisa marah hanya karena sang istri lupa membuat kopi, dan seorang istri bisa marah hanya karena sebelum tidur sang suami lupa mencuci kaki. Bagaimana mungkin itu bisa menjadi masalah… bila tak ada rasa saling memiliki, sehingga ego mampu bicara, “apa yang kumiliki berlaku sesuai yang kuingini”…

Dan perjalanan penyadaran diri pun dimulai…
Manusia yang senantiasa berpikir bahwa dia sudah beriman… yang senantiasa mampu tuk mengatakan  “alam semesta adalah milik-Nya” ditabrakkan dalam sebuah kondisi rasa… bahwa dia adalah milikku…

Manusia adalah dan hanyalah milik-Nya… dia hanyalah amanah bagi diriku, dan sebagai media tuk mengenali diriku, tuk mengenal Tuhanku…

Aku dititipkan cermin yang sangat bening untuk berintrospeksi…

Dia membuatku kesal untuk menyadarkan aku, bahwa potensi kesal memang ada dalam diriku… tanpa dia kesalku takkan bangun dari tidurnya… dan diriku takkan pernah kukenali lebih jauh dari yang kuketahui…

Dan karena dia, aku mengenal diriku lebih akrab lagi…

Diriku ada untuk kukenali, dan diriku terkontaminasi oleh semua pembawaanku yang membangun wadah kebenaranku… Diriku terkontaminasi oleh semua potensi yang terlanjur terbentuk oleh definisi eksistensiku. Dan selama potensiku tak kukenali, eksistensi sejatiku tertidur dalam kedalaman ketidaksadaranku…

Dengan mencari Tuhanku kan kukenali diriku, dan dengan mengenali diriku kan kukenali Tuhanku…

Hanya manusia yang saling telanjang yang mampu saling jujur membuka diri… sehingga cerminan diri akan bening sekali… dan potensi diri akan muncul tuk dikuasai.

Bukan dia yang harus kukuasai, tapi justru musuh terbesarku yang bersemayam di dalam diri…yang menjadi tabirku tuk mengenali Tuhanku yang sejati…

Menikah itu ibadah, karena didalamnya terkandung jihad yang melebihi keagungan mati di perang Badar …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar